Januari 18, 2021

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Tafakur di Kala Kabur

PEMBELAJARAN DARING

Yohanes Joni Liwu

Pilih Untuk Berbagi

Peu hanya menatap sepih diterpa angin malam. Lampu –lampu kecil para nelayan di atas perahu di tengah lautan seolah menghiburnya. Kalau saja ada mendiang isterinya, ia tentu berharap isteriya itu bisa memutuskan. Tetapi itu tidak mungkin. Kali ini ia harus memilih kembali ke rumah sakit itu untuk mendengar penjelasan dokter setelah pemeriksaan darah.

Jika itu bukan pilihannya, maka akan memunculkan persoalan yang baru, seandainya ia harus dirawat. Mungkin saja berdasarkan alamat yang diberikan, ia akan dipanggil paksa oleh polisi dan petugas covid 19 karena karena termasuk Pasien Dalam Perawatan. Jika itu yang terjadi maka urusannya semakin runyam.

Ia sadar kegalauan hati karena itu ia memilih menyepih di tepi pantai. Di keheningan serti ini bisa bertafakur memohon petunjuk Saat ini ia mendapatkan kepastian itu. Ia harus kembali ke rumah sakit itu. “Kalau dokter menanyakan, akan kujawab kalau aku keluar hendak membeli air mineral,” pikirnya dalam hati.

Ia menstater motornya dan kembali ke rumah sakit itu. Peu baru ingat kalau Ari, keponakannya juga salah satu perawat di Rumah Sakit itu. Mungin ia orang yang bisa membantunya, setidaknya menyampaikan ke dokter itu agar ia segera kembali rumah, sayangnya nomor hand phone keponakannya tidak tersimpan. Tetapi ia kemudian mendapatkan nomor itu melalui sahabatnya. Kini Ari tiba di ruang IGD itu setelah ia menelopnnya.

“Dokter, ini Bapak saya,”kata Ari. ‘Tumben, dini hari seperti ini punya Bapak,” guyon dokter. Ari hanya tersenyum karena sangat kenal dengan dokter itu, apalagi dulu Ari memang pernah di ruangan IGD. Ari kini sudah pindah ke ruang operasi, sehingga ketika Peu di IGD tadi tidak menemui Ari. “Betul Dokter, ia memang Bapak kecil saya. Ia tidak menelopon saya sebelumnya karena nomor saya tidak tersimpan. Apalagi ketika asmanya kambuh tentu ia tidak bisa menghubungi saya,” jelas Ari.

“Jadi bagaimana dengan kondisi Bapak saya?” tanya Ari lagi.

Peu hanya menanti jawaban dokter agar ia bisa kembali ke rumah. Sejenak Peu ke kamar kecil lalu kembali ke ruangan IGD itu. Dari luar ruang IGD itu ia melihat perbincangan antara dokter dan Ari. Sesaat kmudian dokter mendekatinya. “Bapa di sini saja karena Ari yang akan ke Apotek. Setelah itu bapak boleh kembali,” pinta Dokter kepada Peu. “Terimakasih, Dokter,” jawab Peu tersenyum.

Kini ancaman covid tidak lagi menyesakkan dada Peu. Pikiran menjadi Pasien Dalam Perawatan sirnah, karena dari hasil pemeriksaan laboratorium, Peu tidak mengalami gangguan penyakit lainnya kecuali asma. Jam 04.00, terlihat satu dua orang sudah berlari-lari di jalanan. Mereka tentu memilki semangat untuk tetap sehat dengan berolah raga pagi. Dengan usia yang memasuki senja, Peu tentu juga selalu berusaha untuk hidup sehat dengan caranya.

Hari-hari ini Peu menggunakan masker, selalu mencuci tangan, menjaga jarak saat bersama rekan sekantornya, mungkin itu hal parktis yang bisa dilakukannya agar bisa terhindar dari covid 19. Perjalanan pulang dini hari ini menyiratkan kisah sendu sekaligus bahagia. Pilu karena dalam kesendirian ia harus berjuang mengalahkan rasa takut akan covid 19 yang memenuhi ruang hatinya sekaligus bahagia karena telah terbebas dari rasa takut yang terus menghantuinya.

Rasa takut akan covid 19 yang mengancam kehidupannya, dan tentu itu pantang baginya. Peu pun bahagia karena Tuhan dengan cara-Nya telah menolongnya melalui orang lain. Mentari pagi belum menyibak embun malam yang enggan di daun-daun jati di tepi rumahnya, tetapi Peu kini sudah kusuk di kamar doa, Ia melantunkan syukur bersimbah air mata. Sembab di pelupuk matanya bukan karena kesedihan seorang diri berkelana mengaruni buana teka bertepi tetapi karena baginya Tuhan tak pernah menutup mata di jalannya yang sempit dan berliku. Ia hanya berdecak kagum sambil membatin,” Segala sesuatu indah pada waktunya.”


Biodata :

(Yohanes Joni Liwu, S.Pd. Guru Bahasa Indonesia di SMP Negeri 13 Kota Kupang sejak tahun 2000. Sebelumnya ( 1995 – 2000 ) mengajar di SMP Negeri 3 Rote barat Daya. Kini tinggal di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur)

 6,044 kali dilihat,  19 kali dilihat hari ini