Januari 18, 2021

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Tafakur di Kala Kabur

PEMBELAJARAN DARING

Yohanes Joni Liwu

Pilih Untuk Berbagi

Tetapi setelah ia memarkirnya di halaman rumah sakit, ia seolah semakin tidak berdaya. Secepatnya ia menuju ruang IGD. Tak ada satu pun petugas di ruang itu, mungkin saja mereka tertidur, apalagi ini sudah larut malam. Ia coba melihat waktu di handphone, pukul 23.30.

Dengan sisa tenaga, ia mengetuk kaca di loket UGD. Berkali-kali ia mengetuk sambil memanggil. Tak lama kemudian muncul seorang dokter. Dari luar kaca itu, Peu memberi isyarat jika ia asma. Dokter muda itu berusaha memahami isyarat Peu. Dibukanya pintu ruang UGD.

“Tetapi bagaimana pengurusan administrasinya, sedangkan bapak sendiri. Tentu Bapak tidak bisa”.

Peu yang mendengar itu hanya terdiam. Ia pasrah, hanya berharap dokter itu segera memberi pertolongan, entah berupa inhaler atau spacer. Spacer ini pernah dikenakan bagi pasien asma bila tiba di rumah sakit. Satpam Rumah Sakit rupanya memahami kondisi di tengah malam tersebut datang dan menawarkan bantuan. Peu merasa legah, karena itu berarti setelah itu ia sudah bisa mendapat pertolongan.

Namun yang dipikirkan Peu berbeda dengan hal sebenarnya soal pertolongan atas pasien di ruang IGD. Sebelum Satpam itu kembali dokter sudah melakukan pertolongan bagi Peu. Setelah melakukan penguapan dengan peralatan medis, kini napas Peu sudah normal seperti bisa.

Namun yang membuatnya gusar adalah pemeriksaan darah yang dilakukan dokter setelah itu. Baginya jika hasil pemeriksaan menunjukkan ada gejala lain selain asma itu berarti ia harus dirawat.Terpikir olehnya ia harus mengikuti anjuran dokter untuk menginap di Rumah sakit atau opname. Jika itu yang harus dilakukan maka bukan tidak mungkin ia akan menjadi Pasien Dalam Pengawasan. Itu berarti pula semua perawatan terhadap dirinya mengikuti protokol kesehatan.

Baca juga : Puisi-Puisi Joni Liwu – Kelana di Sudut Hari Rabu

Beberapa pasien asma yang ia dengar, ketika tiba di rumah sakit langsung dikarantina. Pekan lalu seorang pasien asma dikarantina dan menjadi Pasien Dalam Perawatan. Berselang beberapa ia meninggal lalu dimakamkan secara protocol kesehatan. Berselang satu jam setelah ia meninggal ia langsung dikuburkan oleh petugas covid. Dikebumikan pada tengah malam tanpa dihadir isteri dan anak-anak ataupun sanak keluarganya. Sangat memprihatikan karena pasien itu sendiri belum diktehaui terpapar covid 19. Peu tidak mau hal itu terjadi padanya.

Benaknya kini kembali digelayuti peristiwa menyedihkan itu. Dan hal itu membuatnya semakin takut. Bagaimana ia harus menghindar, sedangkan namanya sudah terdaftar. Ia hanya berharap jika dokter menganjurkannya untuk kembali.

“Bapak, saya periksanya darahnya,” Peu hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Beberapa saat kemudian, dokter meminta kesediaanya untuk bersabar menanti hasil pemeriksaan darahnya dari laboratorium. Dokter yang tadi bersamanya kembali ke ruangannya. Peu beringsut ke tempat parkir. Perlahan ia mendorong motor, dan baru menghidupkan mesinnya setelah ia di jalan raya. Peu tancap gas, menjauh dari Rumah Sakit Kota itu. Ia memang sudah sembuh dari penyakitnya.

Namun demikian, pikirannya masih berkecamuk, kalau-kalau atas pemeriksaan dokter ia lalu harus dirawat beberapa hari di rumah sakit. Dan itu berarti ia tidak bisa menghindar, karena nama dan alamat sudah terdaftar saat ia menyodorkan KTP dan kartu BPJS-nya. Ia kini membeloknya motornya di tepi pantai.

Di tepi pantai itu ia harus menyelesaikan persoalan baru setelah selamat dari asma. Jika karena asma ia kesulitan bernafas, maka covid 19 mengharuskannya untuk kembali ke rumah sakit untuk mengambil resep dokter atau kembali ke rumah tanpa membawa obat. Ia hanya memandang gelombang-gelombang kecil yang menepi. “Gelombang-gelombang lautan itupun pasti menepih. Mungkinkah persoalan yang bergejolak ini akan berakhir?”

Baca juga : Berkaca dari Rahim Cinta

 6,050 kali dilihat,  25 kali dilihat hari ini