Januari 18, 2021

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Tafakur di Kala Kabur

PEMBELAJARAN DARING

Yohanes Joni Liwu

Pilih Untuk Berbagi

Terik siang ini tidak saja membuat cuaca panas, tetapi suhu badannya semakin meningkat. Badanya terasa demam sedangkan beberapa menit berlalu badanya hanya meriang. Cuaca yang tiba-tiba mendung semain membuatnya sulit bernapas. Napasnya tidak beraturan. Ia sudah yakin bahwa asmanya kambuh. Jika cuaca berbubah-ubah Peu pasti terserang asma. Penyakit menahunnya ini membuatnya sulit tidur.

Dalam kondisi seperti ini, tidak ada satupun orang di rumah kecuali ia sendiri. Ia coba mengolesi badannya dengan minyak kayu putih. Seperti biasa bila asmanya kumat, ia sering mengonsumsi berapa tablet, seperti aspirin, tetapi obat – obat itu sudah habis. Di toples kecil di dalam lemari, tablet-tablet itu telah habis tiga bulan lalu. Ia lupa membelinya di apotek sebagai persediaan. Peu coba bertahan, tetapi setelah hampir dua puluh menit berlalu tidak ada tanda-tanda akan sembuh.

Ia berjalan-jalan sekitar rumahnya dengan maksud mengurangi sesak napasnya. Sesekali masuk ke dalam rumah melalui pintu depan hingga pintu belakang, lalu kembali lagi. Napasnya semakin tak beraturan itu membuatnya putus asa. Beberapa bulan lalu ketika asmanya kambuh ia segera ke puskesmas terdekat untuk berobat. Ia sendiri yang mengendarai motor bebeknya. Ketika ia sampai di Puskesmas itu, perawat tercengang karena ia sendiri yang mengendarai motor tanpa ada yang memboncengnya atau sekedar mengantarnya.

“Jadi, Bapak sendiri yang mengendarai motor ini?” tanya perawat malam itu. Tapi kondisi kali ini berbeda. Di masa pandemic covid 19 ini Puskesmas ditutup untuk umum, Tertulis pada secarik kertas, jika pasien yang hendak memeriksakan kesehatannya harus ke Rumah Sakit. Belum lagi kalau penyakit yang berhubungan dengan pernafasan, maka itu harus ditangani dokter. Pengumuman itu menjadi penting karena penyakit pernafasan menyerupai covid 19. Oleh karena ketiadaan fasilitas serta tenaga perawat di Puskesmas, maka pasien dianjurkan ke Rumah Sakit.

Peu kini tidak saja menderita karena asmanya kambuh, tetapi juga ragu untuk meminta pertolongan di ruang Instalasi Gawat Darurat ) IGD. Memang ia belum banyak tahu soal virus corona. Tetapi dari teman-teman satpam, ia mengetahui jika salah satu ciri terserang covid 19 adalah suhu badan panas, flu, batuk dan napas tersengal seperti asma. “Jika pasien mengalami gejala-gejala seperti ini maka, ia langsung dikarantina. Status pasien pun berubah menjadi Pasien Dalam Pengawasan,” demikian cerita sahabatnya ketika mereka menyiram beberapa tanaman di halaman kampus.

Peu sangat ingat cerita temannya itu. Walau usianya sudah berkepala enam, ia bisa menyimpulkan sendiri, jika ia ke rumah sakit ia pasti dikarantina bahkan menjadi Pasien Dalam Pengawasan.

Hari kini semakin malam. Jelang magrib Mau mengabarkan kepada Peu melalui pesan singkat jika ia harus lembur. Sedangkan putranya yang seorang keluar kota. Ia coba bertahan dengan minyak kayu putih. Cuaca malam yang semakin dingin membuat asmanya semakin kumat. Ia sangat tersiksa dengan penyakit ini.

Pikiran yang berkecamuk membuatnya semakin menderita. Tapi ia tidak punya pilhan lain untuk menyelamatkan hidupnya. Diraihnya baju dan celana panjang di gantungan pakaian. Dengan napas yang masih tersengal-sengal ia meraih kunci motor. Di tengah kabut malam ia meluncur ke Rumah Sakit Kota.

“Tak peduli, apa pun yang terjadi di rumah sakit,” Peu membantin. Perjalanan ke Rumah Sakit sekitar setengah jam baginya terbantu. Ia merasa nafasnya agar lancar. Apakah mungkin karena saat mengenadari motor bebeknya ia mendapat asupan udara yang cukup?

Baca juga : Semburat Sendu di Pantai Panmuti

 6,046 kali dilihat,  21 kali dilihat hari ini