Januari 18, 2021

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Tafakur di Kala Kabur

PEMBELAJARAN DARING

Yohanes Joni Liwu

Pilih Untuk Berbagi

Tafakur di kala kabur, sebuah cerpen.

( Cerpen : Yohanes Joni Liwu )


Pagi ini Peu begitu lelah. Semalaman ia tidak bisa tidur walau sebentar. Unu seharusnya berjaga bersamanya malam ini, namun ia berhalangan, mau tidak mau Peu sendirian. Tiap jam-jam tertentu ia berkeliling memeriksa kondisi sekitar kampus,. Tapi itu tetap dilakukan dengan ikhlas walau tingal sebulan lagi ia harus pensiun. Jadwal jaga sudah diatur di kampus ini, setiap sip jaga hanya dua satpam.

Peu pernah mengusulkan penambahan tenaga satpam dalam rapat bersama namun belum bisa diakomodir karena kampus ini belum setahun jagung. Banyak pertimbangan sehingga usulan Peu tersebut belum terjawab.

“Dengan rasio yang wajar, satpam sebanyak enam orang cukup untuk kampus yang hanya dengan 2 fakultas,” demikian kepala Satpam menjelaskan.

Pagi – pagi benar Peu sudah tiba di rumah. Setelah berganti baju, ia menuju dapur. Didapatkan Mau, putranya yang sedang mengopi karena sebentar lagi ia harus ke tempat kerja. Ia menjadi buruh atau pembantu tukang bangunan. Mau telah menganggur sebulan lebih karena perampingan di masa covid 19. Perusahaan tempatnya bekerja harus merumahkan karyawannya termasuk ia sendiri. Kondisi ini membuatnya harus banting stir. Jika selama ini ia bekerja di kantoran, maka sudah hampir seminggu ini ia bekerja dengan cuaca cukup panas.

“Bapak, minum kopinya, masih hangat. Aku juga hendak berangkat pagi-pagi,” Mau menyapa dan memberikan segelas kopi untuk ayahnya.

Peu meneguk segelas kopi. Ia hanya menatap sang putra dengan senyum. Ia memahami kondisi covid 19 menyebabkan mereka mengalami kesulitan soal finansial. Seperti biasa, ketika anaknya itu masih bekerja di persuahaan sebelumnya, mereka tak mengalami kesulitan keuangan. Anaknya yang seorang lagi memilih menjadi pengemudi ojek online karena ia hanya memiliki ijasah es em a.

Kehidupan bertiga dengan anaknya telah digumuli lima tahun setelah kepergian istrinya karena komplikasi beberapa penyakit. Praktis saja hari-hari dilalui sendiri bersama kedua anaknya. Itupun jika mereka di rumah. Jika ia piket pada malam hari , maka sepanjang siang ia sendiri di rumah. Melaksanakan tugas-tugas dapur, mencuci pakaian, bahkan memberi makan ternak yang dipelihara di halaman rumahnya. Jika piket pada siang hari, ia tentu memiliki waktu bersama kedua putranya pada malam.

Bagi kebanyakan orang kehidupan seperti itu terasa hambar, tetapi ia menikmatinya, sehingga ia merasa lumrah. Ia tidak ingin tersekap dalam ketidakberdayaan karena ketiadaan seorang isteri. Ia tegar seirama perjalanan waktu, walau hanya menjadi seorang satpam kontrakan. Banyak yang dilakukan selain sebagai seorang satpam.

Sebelum waktunya piket ia masih masi menggunakan motor tuanya sebagai seorang tukang ojek. Hitung-hitung bisa membeli sayur untuk lauk di rumah. Atau setidak-tidaknya dengan satu dua rupiah itu, ia bisa menambah penghasilan yang tak seberapa dari gaji bulanannya.

Peu hampir selesai meneguk kopi buatan Mau sedang terik siang semakin terasa walau baru pukul sebelas. Ia bergegas menanak nasi sebelum istirahat siang. Belum selesai kesibukannya di dapur, badannya terasa meriang.

“Mungkin karena aku tak tidur semalam?” Peu membatin.

Tetapi ia harus menyelesaikan tugas di dapur. Ia baru menanak nasi, sedangkan lauknya masih harus dipikirkan, karena pagi ini ia tidak membeli sayur. Ia berharap ketika tiba di rumahnya, Mau dapat menyepatkan dirinya ke pasar.

Namun pagi ini Mau pergi lebih awal. Ia ingat beberapa potong tempe di kulkas. Tanpa tedeng aling digorengnya tempe dengan beberapa buah tomat. Jadilah lauk yang lezat untuk makan siang.

Baca juga : Puisi-Puisi Joni Liwu – Munajat

 6,048 kali dilihat,  23 kali dilihat hari ini