November 24, 2020

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

PTK Bukanlah Syarat Wajib dari III/b ke III/c

PTK
Pilih Untuk Berbagi

PTK Bukanlah Syarat Wajib dari III/b ke III/c

Apakah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan syarat wajib untuk kenaikan pangkat/golongan/ruang dari III/b ke III/c? Pertanyaan ini sering muncul dalam diskusi bersama teman-teman guru. Di media sosial pun pertanyaan ini muncul.

Sebelumnya, saya pernah menulis tentang ini di blog saya. Bisa di cek di link ini http://jonapeutung.blogspot.com/2018/03/penelitian-tindakan-kelas-bukan-syarat.html. Beberapa hari kemarin, ada teman-teman yang bertanya lagi perihal di atas, maka ada baiknya saya posting ulang tulisan saya lagi. Oh ya, saya sendiri pernah naik golongan dari III/b ke III/c dalam jabatan fungsional guru tanpa PTK. Jenis publikasi ilmiah yang saya gunakan untuk kenaikan golongan tersebut adalah tulisan ilmiah di koran dan makalah yang didokumentasikan di perpustakaan sekolah.

Jika kita ingin memberi jawab atas pertanyaan Apakah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) merupakan syarat wajib untuk kenaikan pangkat/golongan/ruang dari III/b ke III/c, ada baiknya kita merujuk pada regulasi yang mengatur jabatan fungsional guru seperti Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permen Pan & RB) Nomor 16 Tahun 2009 dan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 35 Tahun 2010.

Dalam peraturan tersebut, tidak tersurat jika PTK merupakan syarat wajib untuk kenaikan pangkat/golongan/ruang III/b ke III/c. Regulasi tersebut mengisyaratkan wajib melakukan publikasi ilmiah untuk III/b ke III/c. Namun untuk golongan III/b ke III/c masih bebas pada berbagai jenis publikasi ilmiah.

Pasal 17 ayat 2 Permen Pan & RB Nomor 16 Tahun 2009 berbunyi “Guru Pertama, pangkat Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b yang akan naik jabatan/pangkat menjadi Guru Muda, pangkat Penata,golongan ruang III/c angka kredit yang dipersyaratkan untuk kenaikan jabatan/pangkat, paling sedikit 4 (empat) angka kredit dari sub unsur publikasi ilmiah dan/atau karya inovatif, dan paling sedikit 3 (tiga) angka kredit dari sub unsur
pengembangan diri.

Baca juga : Laporan Pengembangan Diri untuk Kenaikan Pangkat Guru


Selanjutnya pada Permendiknas Nomor 35 Tahun 2010 disebutkan bahwa jenis publikasi ilmiah bagi Guru Pertama, pangkat Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b yang akan naik jabatan/pangkat menjadi Guru Muda, pangkat Penata, golongan ruang III/c adalah publikasi bebas dengan berbagai jenis karya publikasi ilmiah.

Artinya bahwa untuk naik pangkat dari III/b ke III/c wajib melakukan publikasi ilmiah namun jenis publikasi ilmiah yang dipersyaratkan adalah bebas pada berbagai jenis publikasi ilmiah atau karya inovatif. Jadi, teman-teman guru boleh membuat publikasih ilmiah apa saja. Bukan wajib melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk III/b ke III/c. Boleh ber-PTK tetapi PTK bukan syarat wajib untuk golongan/ruang III/b ke III/c.

Nah, pertanyaannya, ragam/jenis publikasi ilmiah apa sajakah yang diisyaratkan regulasi tersebut?  

Permediknas Nomor 35 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya disebutkan bahwa jenis-jenis publikasi ilmiah guru sebagai syarat wajib untuk kenaikan pangkat yang dimulai dari golongan III/b adalah :

  1. Presentasi di Forum ilmiah dalam hal ini menjadi narasumber di seminar atau lokakarya.
  2. Hasil penelitian atau gagasan ilmu bidang pendidikan formal berupa laporan hasil penelitian yang diterbitkan/dipublikasikan dalam bentuk buku ber ISBN dan telah mendapat pengakuan BSNP; laporan hasil penelitian yang disusun menjadi artikel ilmiah diterbitkan/dipublikasikan dalam majalah ilmiah/jurnal ilmiah diedarkan secara nasional dan terakreditasi atau majalah/jurnal ilmiah tingkat provinsi dan majalah/jurnal ilmiah tingkat kabupaten/kota, dan laporan hasil penelitian yang diseminarkan di sekolah/madrasahnya dan disimpan di perpustakaan sekolah.
  3. Makalah tinjauan ilmiah yang adalah karya tulis guru, berisi ide/gagasan penulis dalam upaya mengatasi berbagai masalah pendidikan formal dan pembelajaran yang ada di satuan pendidikannya (di sekolah/madrasahnya).
  4. Karya ilmiah populer adalah tulisan ilmiah yang dipublikasikan di media massa (koran, majalah, atau sejenisnya).
  5. Artikel ilmiah dalam bidang pendidikan yang adalah tulisan berisi gagasan atau tinjauan ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembajaran di satuan pendidikan yang dimuat di jurnal ilmiah.
  6. Publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan/atau pedoman guru
  7. Modul/diktat pembelajaran per semester
  8. Buku dalam bidang pendidikan yang berisi pengetahuan terkait dengan bidang kependidikan.
  9. Karya terjemahan yang adalah tulisan yang dihasilkan dari penerjemahan buku pelajaran atau buku dalam bidang pendidikan dari bahasa asing atau bahasa daerah ke Bahasa Indonesia atau sebaliknya dari Bahasa Indonesia ke bahasa asing atau bahasa daerah.
  10. Buku pedoman guru adalah buku tulisan guru yang berisi rencana kerja tahunan guru.

Itulah berbagai jenis karya publikasi ilmiah yang dilakukan guru sebagai syarat wajib kenaikan golongan III/b ke III/c. Rekan-rekan guru boleh memilih berbagai jenis karya publikasi ilmiah tersebut dengan point minimal 4 angka kredit.
Namun untuk kenaikan golongan tersebut tidak terbatas hanya pada publikasi ilmiah saja. Rekan-rekan guru boleh memilih berbagai jenis karya inovatif karena memang regulasi mengisyaratkan demikian, boleh publikasi ilmiah, boleh juga melakukan karya inovatif dengan angka kredit minimal 4.

Ada pula ragam/jenis karya inovatif yang dapat diciptakan guru sebagaimana diatur dalam Permediknas Nomor 35 Tahun 2010 Tentang Petunjuk Teknis Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya antara lain :

  1. Menemukan Teknologi Tepat Guna (Karya Sains/Teknologi)
  2. Menemukan/Menciptakan Karya Seni
  3. Membuat/Memodifikasi Alat Pelajaran/Peraga/Praktikum
  4. Mengikuti Pengembangan Penyusunan Standar, Pedoman, Soal, dan Sejenisnya. 

Tentang jenis karya inovatif tersebut di atas dapat dilihat penjelasan lebih konkretnya dalam Permediknas Nomor 35 Tahun 2010. (Yohanes Peu)

 18,302 kali dilihat,  24 kali dilihat hari ini