November 24, 2020

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Pesan Sang Guru : Jika Belum Bisa Hormati Perbedaan, Jangan Provokasi

pesan sang guru
Pilih Untuk Berbagi

Pesan sang guru : jika belum bisa hormati perbedaan, jangan provoklasi.

Oleh Lay A Yeverson

Ada peribahasa begini, semut di seberang lautan nampak, gajah di pelupuk mata tidak nampak. Maksud dari peribahasa itu adalah menggambarkan mengenai sifat manusia yang lebih mudah menilai orang lain daripada menilai diri sendiri.

Memang demikian ada yang selalu merasa paling mengerti tentang orang lain. Sangat mudah menghakimi orang lain. Cobalah kita amati di era digital ini, akun palsu menyusup sebagai pejuang di belakang layar, namun itikad baik hanya pada batas menyerang dan provokatif yang tak bertanggung jawab dalam menyampaikan pendapat.

Mohon maaf saya ingin berbagi pemikiran saya ini melalui media ini tentang keprihatinan dengan kondisi sekarang ini khususnya di jejaring sosial media. Menurut penilaian saya, semakin parah dalam mencaci dan memaki, memfitnah atau saling menuduh, mengumbar keburukan dll, baik itu dilakukan akun palsu maupun akun asli.

Penulis amati keadaan etik dari pemilik akun aspal semakin parah, yang penulis maksudkan yaitu semakin parah untuk mencaci, memaki, menghujat, dan mengeluarkan ejekan negatif lainya kepada saudara sesuku, sekampung, sedaerah singkatnya sebangsa dan setanah air sendiri, alasannya hanya karena memiliki perbedaan memilih calon kada, atau perbedaan pandangan diskusi dan kritik.

Karena alasan tersebut diatas, saya hanya ingin menyerukan bahwa jika Belum Bisa Hormati Perbedaan dalam Memilih, dalam diskusi, atau kritik Jangan Bicara Cakada (calon kepala daerah), jangan bicara kritik yang bersifat memfitnah karena itu hanya akan menjadi bagian dari penyebar pemecah belah persahabatan sebagai anak bangsa.

Cobalah amati yang terjadi di medsos, sesama teman saling caci dan memaki, akun palsu menghujat akun akun asli ataupun akun palsu maupun asli saling menghujat, dan mungkin banyak dan banyak hal menjadi sesuatu bisa diprovokasi.

Inilah kondisi yang terjadi karena kita belum bisa menghormati perbedaan dalam memilih, perbedaan menghargai profesi dll. Kadang ada yang menghujat dan mencaci diri mereka sendiri alias orang hebat terpengaruh oleh kebodohan sang provokator, orang hebat ikut mamaki lawan makian, Ini benar-benar sudah keterlaluan.

Medsos ini bukan saja milik orang dewasa namun anak di bawah umurpun pandai mengakses sehingga akan menjadi sebuah permasalahan akut ketika anak-anak dibawah umur mendapati akun-akun saling mencaci maki, atau status makian dan amarah di setiap akun.

Memang tidak ada yang salah orang bicara soal politik, bicara bebas, bebas bicara karena setiap individu warga negara memiliki hak menyampaikan pendapat di muka umum namun perlu kedepankan etika dan moralitas karena banyak anak-anak dibawah umur mengakses medsos.

Ini patut di sadari oleh pengguna medsos yang punya akun asli atau admin grup bisa lebih cerdas membantu menyikapinya dengan rame-rame take down atau memblokir pertemanan baik di group maupun secara individu.

Maka, yang perlu dilakukan sebenarnya bukan saling menilai, menunjuk, dan memaki. Apalagi saling mencari kesalahan satu sama lain. Yang perlu dilakukan adalah saling melengkapi kekurangan masing-masing.

Jika ada seseorang yang melakukan kesalahan, tegur mereka dengan cara-cara yang baik. Lalu, carikan juga solusi untuk mereka bisa memperbaiki diri. Jika kita merasa bahwa orang lain tidak nyaman dengan kehadiran kita, tanyakan pada mereka dengan sikap terbuka mengenai masalah apa yang telah kita timbulkan. Lalu, mintalah nasihat dari mereka mengenai kesalahan yang kita lakukan.

 17,900 kali dilihat,  13 kali dilihat hari ini