Januari 18, 2021

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Pembelajaran Daring : Dia yang Berlabuh, Aku yang Menangis

PEMBELAJARAN DARING

Yohanes Joni Liwu

Pilih Untuk Berbagi

Kuota Internet Gratis Versus Game

Pemberian kuota internet gratis sebanyak 35GB yang mengeruk anggaran negara sebanyak Rp 8,9 triliun untuk empat bulan, mulai dari September hingga Desember 2020, kiranya dapat mengurangi beban ongkos pmbelajaran daring untuk setiap peserta didik.

Namun demikian, hal itu tentu hanya menjawab keluhan orang tua soal ketersediaan kuota internet. Belum menjawab persoalan klasik soal kepemilikan gawai. Dan yang lebih penting yakni kepatuhan peserta didik untuk memanfaatkan kuota internet gratis tersebut untuk pembelajaran di rumah. Kecenderungan peserta didik mengunduh aplikasi game tentu menjadi tanggung jawab terbaru bagi orangtua dalam mendisiplikan anak memanfaatkan kuota internet tersebut.

Pada titik ini, negara melalui kemendikbud sebenarnya telah memberi tugas tambahan bagi orang tua. Orang tua mesti lebih memaksimalkan bantuan pemerintah demi memperlancar pembelajaran dari rumah (BDR).

International Telecommunications Union (ITU), Badan PBB yang mengurus teknologi dan jaringan, berpendapat anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di dunia maya sejak pandemi Covid-19. Keadaan tersebut dinilai mengkhawatirkan, karena sejak pandemi, anak-anak mengakses internet di usia muda dan berisiko mengalami perundungan di dunia maya. Hal seperti ini semoga tidak menciptakan kondisi yang dilematis. Namun memberi peluang bagi guru, dosen, siswa, dan mahasiswa agar lebih bijak menggunakan kuota internet gratis tersebut dalam pembelajaran di rumah.

Dengan pemberian kuota internet gratis, diharapkan dapat meminimalisir kesulitan terkait ketersediaan kuota dalam pembelajaran ‘daring’. Guru, dan siswa tentu memanfaatkan peluang ini. Guru dengan kuota internet sebanyak 42 GB tiap bulan hingga Desember nanti. Tentu harus lebih proaktif membangun komunikasi yang lebih efektif dengan peserta didik melalui aplikasi pembelajaran. Hanya dengan melakukan komunikasi berwujud motivasi, atau bimbingan secara daring, sedikit banyak mengubah pola belajar peserta didik di rumah.

Di lain pihak dengan komunikasi intens, akan sangat mengurangi beban orang tua yang hari-hari ini menjadi guru sementara di rumah. Bahkan dengan kuota sebesar 35GB untuk siswa perbulan tersebut, perserta didik dengan leluasa mengakses informasi di dunia maya sehungungan dengan materi pelajaran yang diberikan guru.

Orang tua kini boleh berlegah dengan pemberian kuota internet gratis. Tetapi setidaknya harus tetap bersedia menjadi guru di rumah, apapun alasannya. Karena esensinya, pendidikan untuk bangsa ini menjadi tanggung jawab kita bersama.

Kita mesti memerankannya sejauh kemampuan kita tanpa harus berkeluh tentang covid yang hari-hari ini mengancam keselamatan hidup. Jika tetapi bergandengan tangan dalam pembelajaran dari rumah, kita pun tak pantas melitanikan selarik lagu nostalgia ini. Dia yang Berlabuh, Aku yang menangis.

Akhirnya, kupungkasi coretan ini dengan bait-bait pantun berikut.

Daun kelor daun papaya

Dipetik tetangga haruslah iklas

Covid 19 sangat berbahaya

Libur di rumah janganlah malas

Sehari saja tak melihatmu,

Hati galau tak terbilang

Berhari-hari menuntut ilmu

Ilmu kuraih prestasi gemilang

* Penulis, Yohanes Joni Liwu , S.Pd, Mengajar di SMP Negeri 13 Kota Kupang sejak tahun 2000 sebagai guru Bahasa Indonesia. Menulis antologi puisi “Mengembara di Lautan Cinta” dan “Bahana Cinta” dan sedang merampungkan antologi cerpen berjudul “ Denting Baobala di Bulan Juli”.

 8,996 kali dilihat,  10 kali dilihat hari ini