Januari 18, 2021

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Pembelajaran Daring : Dia yang Berlabuh, Aku yang Menangis

PEMBELAJARAN DARING

Yohanes Joni Liwu

Pilih Untuk Berbagi

Persoalan mendasar adalah kepemilikan gawai yang mampu mengunduh aplikasi pembelajaran. Jika saja secara kualitas bawaan gawai yang dimiliki tidak bisa mengunduh beberapa aplikasi, tentu itu menjadi persoalan utama, bahkan karena itu pula, peserta didik mengambil sikap diam seribu bahasa saat dikonfirmasi wali kelas tentang tugas-tugas yang diberikan.

Ada juga yang menarik, yakni gawai itu bukan milik peserta didik melainkan orang tua, kakak atau saudaranya. Dengan demikian, peserta didik hanya bisa menyelesaikan tugas dari sekolah bila pemilik gawai itu berada di rumah, entah sore hari atau malam.

Soal-soal berikut yang bermunculan adalah seberapa banyak kuota internet pada gawai orang tua atau saudara dari peserta didik. Ini persaoalan-persoalan awal yang turut menyulut kesiapan batin orang tua dan peserta didik sebelum membaca tugas atau membimbing peserta didik dalam belajar di rumah.

Lagi-lagi orang tua harus berperan dalam pembelajaran ‘daring’, namun harapan itu belum sepenuhnya terjawab. Berbagai keluhan berarorma resah dan gelisah perihal kesediaan anaknya mengikuti ajakan, arahan bimbinngan belajar dari orang tua. Beberapa orang tua berkisah dalam kegalauan tentang kepatuhan anak-anaknya selama mengikuti BDR ( Belajar dari Rumah ).

Hampir sebagian waktu anak digunakan untuk “bermain” bersama teman-temannya. Dan hal yang paling meresahkan para orang tua, jika peserta didik tidak memahami materi pembelajaran yang berdampak pada kelalaian anaknya mengerjakan tugas. Semakin memperparah keadaan orang tua jika orang tua sendiri tidak memahami materi pembelajaran yang disampaikan guru, semisal pada mata pelajaran matematika, bahasa Inggris, dan beberapa mata pelajaran lainnya.

Sampai di titik ini, peserta didik mengangkat tangan lalu orang tua pun menyerah. Kendala-kendala ini berujung pada “masa sunyi” ( baca: tidak ada tanggapan ), sehinga guru tetap menanti bak gadis menanti tambatan hingga tujuh purnama.

Kini, pembelajaran BDR memasuki bulan ketiga. Praktis BDR berlangsung dua bulan setelah paruh waktu di bulan Juli setiap lembaga pendidikan mempersiapkan segalanya untuk pembelajaran Daring pun Luring. Lalu apakah guru merasa nyaman terhadap situasi yang dialaminya?

Pandemi covid sedikit memberi ruang bagi guru melakukan kunjungan rumah, belum lagi penetapan zona merah karena beberapa penduduk terindikasi terpapar virus yang mematikan. Kurangnya ruang dan waktu itu pun memberikan pilihan yang menyulitkan, ibarat berhadapan dengan buah simalakama.

Namun demikian. komunikasi melalui gawai selalu dibangun untuk kelancaran pembelajaran, tapi sejauh itu pula guru harus tetap melitani kesabaran sambil mengelus dada, karena janji tinggal janji, janji mengerjakan tugas tidak ditepati. Janji bertemu guru di sekolah tidak ditepati. Entah apalagi cara yang dilakukan.

Baca juga : Semburat Sendu di Pantai Panmuti

 8,998 kali dilihat,  12 kali dilihat hari ini