Januari 18, 2021

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Pembelajaran Daring : Dia yang Berlabuh, Aku yang Menangis

PEMBELAJARAN DARING

Yohanes Joni Liwu

Pilih Untuk Berbagi

Dia yang Berlabuh, Aku yang Menangis (Sebuah Refleksi Pembelajaran Daring)


Melitani pembelajaran ‘dalam jaringan’ ( daring ) dua bulan berlalu semenjak tahun pembelajaran yang baru ini menyisahkan bercak-bercak tak berwarna. Bercak-bercak itu turut menodai segenap aktivitas kehidupan siswa, guru, dan orang tua. Betapa seribu satu persoalan bermunculan setelah sebuah satuan pendidikan berpeluh merancang jenis pembelajaran.

Idealnya, dengan pembelajaran melalui berbagai aplikasi, guru tak perlu berkerut dahi mendapatkan tanggapan peserta didik yang dalam tanda petik dibimbing orang tua atau wali.

Kondisi yang terbaca dan terekam melalui pembelajaran ‘daring’ dua bulan berlalu tersebut ibarat rusa masuk kampung. Bingung menetukan sikap, apakah melanjutkan pembelajaran daring atau luar jaring ( Luring ).

Hambatan Pembelajaran Daring

Sebut saja pembelajaran ‘daring’ yang sangat menemukan kendala. Data terhimpun dari beberapa guru mata pelajaran di sebuah SMP adalah sebagai berikut. Sekitar 30 hingga 40 % peserta didik yang mengerjakan tugas melalui Lembar Kerja Peserta Didik ( LKPD ), 60 hingga 70 % diam membisu. Bahkan untuk tiga kali pertemuan secara ‘daring’, data pengiriman jawaban atau tugas oleh peserta didik belum mencapai 50%. Data tersebut setidaknya menunjukkan persoalan baru setelah orang tua menyetujui anaknya mengikuti pembelajaran ‘daring’ dengan menandatangai pernyataan di atas kertas bermeterai.

Baca juga : Puisi-Puisi Joni Liwu – Munajat

 8,994 kali dilihat,  8 kali dilihat hari ini