Januari 18, 2021

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Merayakan Kelulusan di Tengah Korona

membaca opini kompas

Gerardus Kuma Apeutung

Pilih Untuk Berbagi

Dalam kesempatan tersebut, Pak Yanto Liwu, mewakili pimpinan lembaga menjelaskan kegiatan pengumuman kelulusan terpaksa harus dilakukan dalam nuansa sederhana dan suasana sepi seperti ini. Kriteria kelulusan juga dipaparkan. Dan tentu saja ucapan terima kasih kepada orangtua yang telah mempercayakan lembaga SMPN 3 Wulanggitang untuk mendidik anak-anak mereka; juga kerja sama serta kontribusi yang diberikan demi kemajuan sekolah.

Saya, dalam kesempatan tersebut memberikan motivasi kepada siswa yang akan menamatkan jenjang pendidikan sekolah menengah untuk terus belajar. Belajar bukan hanya untuk sekolah tetapi untuk hidup. Non scholae sed vitae discimus, begitu bunyi pepatah Latin yang saya sitir untuk memotivasi mereka. Sekolah boleh selesai tapi belajar harus terus dilakukan. Pendidikan boleh ditamatkan, tetapi belajar tidak mengenal kata akhir.

Dari cerita dan gambar yang dishare rekan guru dari klaster semua klaster, terlihat dalam suasana pengumuman kelulusan terpancar dua perasaan sekaligus dalam diri siswa. Gembira dan sedih. Gembira karena perjuangan di jenjang pendidikan ini telah diselesaikan dengan baik. Proses yang telah dilalui selama 3 tahun berakhir manis. Usaha yang dilakukan selama ini tidak sia-sia. LULUS adalah buah yang kini mereka petik.

Raut kesedihan juga terlihat di wajah mereka. Perpisahan memang menyedihkan. Tetapi moment perpisahan kali ini menyisahkan pedih yang lebih mendalam. Sedih karena berpisah dengan teman-teman. Dan lebih sedih lagi karena berpisah tanpa ada kebersamaan. Di batas perjuangan ini, perpisahan dilakukan tanpa ada perayaan. Apalagi keramaian.

Akhirnya selamat dan proficiat kepada 85 siswa Spentig Hewa angkatan tahun pelajaran 2019/ 2020. Kalian hebat. Kalian luar bisa. Kalian sudah mendapatkan sedikit hal dari lembaga SMPN 3 Wulanggitang. Dengan bekal tersebut, bertolaklah ke tempat yang lebih dalam. Duc in altum. Gapailah citia-citamu. Masa depanmu ada dalam genggaman tanganmu sendiri. The future is in your hand. See you on the top.

Merayakan Kelulusan

Senang, gembira, bahagia adalah ekpresi manusiawi ketika kita menggapai kesuksesan atau keberhasilan dalam hidup. Kesuksesan yang diperoleh lewat tetesan keringat dan pengorbanan adalah nikmat yang harus disyukuri. Karena itu setiap kesuksesan patut dirayakan.

Pada titik ini, perayaan keberhasilan menyelesaikan pendidikan pada jenjang tertentu saban tahun dapat dimaklumi. Usaha dan perjuangan siswa selama kurun waktu tertentu yang berbuah kelulusan pantas disambut gembira.

Setiap tahun dalam moment pengumuman kelulusan siswa, berbagai cara dilakukan untuk mengekpresikan kebahagiaan mereka. Walau ada himbauan dan larangan dari berbagai pihak namun perayaan kelulusan tetap dilakukan. Aksi kelulusan seolah menjadi tradisi yang diwariskan dari tahun ke tahun.

Ada dua sikap yang ditunjukkan ketika merayakan kelulusan. Pertama, tindakan positif. Yaitu sikap merayakan kelulusan dengan cara konstruktif. Ungkapan kegembiraan diluapkan secara sederhana dan wajar. Kedua, tindakan negative. Kebalikan dari sikap positif, sikap negative menyambut kelulusan dengan cara-cara destruktif. Perayaan kelulusan dilakukan dengan cara yang melebihi batas kewajaran, melanggar norma hingga menimbulkan kekacauan.

Baca juga : NTT Bisa Melawan Korona

 39,438 kali dilihat,  6 kali dilihat hari ini