November 24, 2020

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Meluruskan Salah Kaprah Masyarakat Tentang “New Normal

meluruskan salah kaprah

Niko Taman

Pilih Untuk Berbagi

Pembiasaan diharapkan mampu mendorong lahirnya kesadaran dan kebutuhan untuk hidup sesuai tuntutan pola hidup yang adaptif  terhadap wabah covid-19. Konsisten memakai masker, menjaga jarak dan mencuci tangan dilakukan secara sadar tanpa dorongan atau paksaan dari pemerintah adalah muara dari konsep  “New Normal” itu sendiri.

Pemberlakuan  “New Normal” didasari asumsi bahwa penularan wabah virus corona dengan sendirinya akan tercegah jika masyarakat menyikapi standar protokol kesehatan sebagai suatu kebutuhan pola hidup sehat dan bukan sebagai aturan belaka yang terkadang dijalankan dengan terpaksa.  Jika “New Normal” dijalankan dengan konsisten dan penuh kesadaran,  cara ini bisa memutuskan rantai penyebaran wabah covid -19 dan pada gilirannya menjadi salah satu bentuk adaptasi alamiah yang dapat dilakukan manusia untuk bisa bertahan hidup (survive) dari serangan covid-19 yang oleh sebagian orang disebut sebagai bentuk seleksi alam (natural selection).

Bila kita mencermati data tentang perkembangan kasus penularan covid-19 semenjak diberlakukannya “New Normal”, tampak jelas bahwa angka kasus penyebaran wabah tersebut melonjak drastis. Data yang dirilis detik.com (09/09/2020), jumlah kasus penularan covid-19 di tanah air kini telah menembus angka 200035 kasus. Dari jumlah  tersebut diketahui peningkatan kasus rata-rata 3.209 kasus per hari selama sepekan terhitung dari tanggal 02 September hingga 09 September 2020.

Ini tentu merupakan  angka peningkatan sangat signifikan jika dibandingkan dengan perkembangan kasus di China tempat pertama kali virus tersebut muncul. Pada hal “New Normal” sebagai suatu pola habitus hidup baru diharapkan mampu membantu menjinakan keganasan wabah covid-19 yang ditandai dengan menurunnya jumlah kasus baru.  Semakin terbiasa kita hidup sesuai protokol kesehatan, semakin mantap daya tangkal kita terhadap serangan wabah covid-19.  Ini merupakan tujuan utama pemberlakuan “New Normal” oleh pemerintah.

Akan tetapi, yang terjadi adalah “New Normal” mengendorkan  kedisiplinan diri masyrakat dalam mengikuti protokol kesehatan sebagai standar minimal dalam upaya pencegahan covid-19. Merosotnya kedisplinan mengikuti protokol kesehatan ditandai dengan sikap mental mental masyrakat kita yang cenderung dengan sadar melanggar atau mengabaikan protokol kesehatan dalam kehidupan sehari-hari pasca  “New Normal” diberlakukan pemerintah. Hampir setiap hari diberitakan kasus pelanggaran protokol kesehatan di tempat-tempat yang berstatus zona merah.  Akibatnya, kurva peningkatan kasus tampaknya  semakin tidak terkontrol dari hari ke hari.

Baca juga : Memakai Mindset Berperang Dalam Menghadapi Ancaman Korona

 7,631 kali dilihat,  10 kali dilihat hari ini