November 24, 2020

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Maut Menjemput Sang Guru Usai Mengajar

maut menjemput sang guru
Pilih Untuk Berbagi

Paulus Kopong Burin, kerabat dekat gur Blasi mengatakan, Blasius Boli Wuwur menyelesaikan sekolahnya di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) di Waiwerang, kota Kecamatan Adonara Timur, Pulau Adonara, merantau ke Timor Timur (kini, Republik Demokratik Timor Leste).

Di negeri bekas provinsi bungsu Indonesia itu gur Blasi diangkat menjadi guru Pegawai Negeri Sipil di Same, Timor Timur. Gur Blasi akhirnya mempersunting perempuan pilihan dari bumi loro sae, negeri matahari terbit dan dikaruniai tiga orang putra dan putri.

“Putri sulung telah selesai kuliah dan sudah menikah. Dua orang putra lainnya masih di bangku kuliah. Blas menyelesaikan pendidikan strata satu di Undana Kupang,” kata Paul Burin, jurnalis senior Pos Kupang melalui akun Facebook-nya.

Selain menjadi guru SDK St Yoseph Noelbaki, gur Blasi juga didaulat jadi Ketua Dewan Stasi Paroki Santu Simon Petrus, Tarus, Keuskupan Agung Kupang. Kebijakan pemerintah agar seluruh pegawai dan karyawan bekerja dari rumah, work from home, termasuk dunia pendidikan dilaksanakan dengan penuh tanggungjawab.

Tak terkecuali guru Blasius Boli Wuwur. Ia pontang panting dari rumah menyambangi anak muridnya dari rumah ke rumah yang tinggal di Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang. Gur Blasi adalah guru senior di sekolah milik Yayasan Swastisari, Keuskupan Agung Kupang.

“Blas memang tipe pemimpin. Ia selalu tenang dalam menghadapi setiap situasi. Tak terkesan “gaduh” atau panik. Ia tenang sembari berpikir dengan sangat jernih dan obyektif. Kemudian, ia menawarkan solusi. Punya kemampuan public speaking yang bagus. Terlampau sering ia menjadi master of ceremony,” kata Paul Burin.

Bernardus Satel Blikon, guru asal Desa Belabaja yang lama mengabdi sebagai wasit berbagai turnamen di Kupang menyempatkan diri melayat jenazah gur Blasi di Noelbaki, mengaku sedih kabar kematian itu.

Dus juga mendengar kabar gur Blasi mengendarai sepeda motor miliknya bertemu murid-muridnya dari rumah ke rumah selama pandemi covid-19. Di tengah jalan ia merasa lemas, kemudian minggir dan istirahat sejenak.

“Infonya kaka guru hentikan motor dan sempat muntah. Untungnya saat itu ia bersama rekan-rekan gurunya. Kemudian diantar ke rumah sakit untuk ditangangi petugas medis. Tak lama berselang beliau menghembuskan nafas terakhir. Hari Senin baru dimakamkan,” kata Dus semalam.

Selamat jalan, kaka gur. Selamat jalan, kaka Blasi Bol. Semangat juangmu adalah warisan terindah kami, adik-adikmu dari kampung, di kaki Labalekan, tanah leluhur kita. Doa kami semua untuk kaka grapor, kaka perempuan isterimu serta anak-anakmu terkasih.

Jakarta, 20 September 2020

Ansel Deri

Orang udik dari kampung;

Sumber foto : Fb Alm. Blas Atawuwur

 42,673 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini