November 24, 2020

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Maut Menjemput Sang Guru Usai Mengajar

maut menjemput sang guru
Pilih Untuk Berbagi

Maut Menjemput Sang Guru Usai Mengajar.

NOELBAKI dan dunia pendidikan tengah dirundung duka. Blasius Boli Wuwur (53), guru SDK St Yoseph Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur, Sabtu 19 September 2020 siang, meregang nyawa. Ia menutup mata selamanya di sebuah rumah sakit di Kupang.

Ia memenuhi panggilan Ata Rajan je Kofa Lolo, (sebutan lokal di Puor dan lereng Labalekan, Lembata) Tuhan Sang Sabda, kiblat manusia dan seluruh makluk hidup ciptaan-Nya. Ia tak lagi memendam rindu usai menyambangi rumah murid-muridnya, memenuhi tugas dan kewajiban sebagai pahlawan tanpa tanda jasa di tengah hantaman pandemi coronavirus 2019 atau Covid-19 alias korona.

Kasih dan kesetiaan kepada para murid untuk menjalankan tugas hingga maut menjemput boleh jadi adalah satu-satunya bahasa yang ia pahami. Seakan gur Blasi mau mengatakan kepada Tuhan, Sang Sabda, meminjam potongan puisi Doa karya Chairil Anwar, “….di pintu-Mu aku mengetuk. Aku tidak bisa berpaling…..”

Saya mengenal dan menyapanya dengan “kaka gur”. Juga akan sangat akrab di kalangan teman-teman sebayanya di SMP Lamaholot Boto (kini SMP Negeri 2 Nagawutun), Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata dengan sapaan: Blasi atau Blasi Bol. Kaka gur Blasi atau Blasi Bol melanjutkan sekolah di SMP Lamaholot Boto setelah lulus dari SDK Puor, Kecamatan Nagawutun (kini Wulandoni). Beliau lulus SMP Lamaholot Boto tahun 1983. Saya sendiri lulus tahun 1987. Bagi sebagian besar anak-anak lulusan sekolah dasar di lereng Labalekan, gunung tertinggi di Lembata, pilihan lanjut SMP kalau tidak ke SMP APPIS Lamalera maka SMP Lamaholot Boto adalah pilihan rasional.

Memilih lanjut SMP di Lewoleba, kota Pembantu Bupati Flores Timur Wilayah Lembata biasanya hanya di tangan anak-anak dari orangtua yang mampu secara finansial. Bisa juga ditopang semangat kerabat untuk setia setiap akhir pekan untuk mengantar bekal dalam serbet atau kelombu menempuh jarak kurang lebih 30 kilo meter dari Puor menuju Lewoleba. Kalau tidak melewati rute Puor-Boto-Lamalewar-Bata-Puo-Belang hingga Lewoleba, maka pilihan lain adalah melewati padang sabana dari Puor-Uruor hingga Lewoleba dengan rute menantang karena harus naik turun bukit di bawah terik matahari yang membakar tubuh.

“Rata-rata generasi di atas kami lebih memilih sekolah di SMP Lamaholot Boto. Bisa jalan kaki setiap hari untuk ambil bekal,” kata Hermien, warga asal Puor lulusan SMP Lamaholot Boto.

Tahun 1980-an tatkala saya masih duduk di SDK Boto, Blasius Boli Wuwur sudah memulai sekolah di SMP Lamaholot Boto. Ia tinggal bersama kerabatnya di dusun Boto, Desa Labalimut. Kadang pula ia tinggal di rumah kakek Karinus Kia Pukan, kerabat.

Ada sejumlah rekan Blasi Bol yang meneruskan sekolahnya di SMP Lamaholot Boto. Sebut saja Baltasar Baru Alior, Adam Bala Alior, Emanuel Liku Botoor, Damianus Deri Wadan, Baltasar Kia Wadan, Yohanes Boli Botoor, Hirmina Siba Wadan, Karolus Kia Burin, Maria Nini Alior, Yasintha Sura, Vincent Mega Kalang, Benediktus Boli Kalang, Yohanes Labi Kobun, dan lain-lain.

Tak hanya dari Puor, tetapi anak-anak dari desa-desa sekitar Boto (Desa Labalimut) seperti Imulolong (kampung Faflima, Baulei/Bamut), Atawai (kampung Atawai, Idalolong), Ile Boli (dusun Bata, Belame, Lamalewar, Liwulagang) hingga Pasir Putih (dusun Mingar dan Lolong). “SMP Lamaholot saat itu sekolah favorit.

Setelah tamat dan selesai sekolah di Seminari San Dominggo, Hokeng, saya jadi guru di SMP Lamaholot. Saat itu saya aktif sebagai dirigen. Kalau sudah naik di bangku untuk pukul mat (menjadi dirigen) koor pasti heboh, semarak,” kata Baltasar Daton Gawen, pensiunan guru di Kefamenanu.

Jiwa dan semangat anak-anak lereng Labalekan kala itu untuk meraih pendidikan sangat tinggi. Bagi sebagian warga yang rata-rata petani, menyekolahkan anak-anak adalah investasi strategis. Kesulitan dalam proses pendidikan yang dihadapi, entah soal bayar uang sekolah atau jalur yang ditempuh bukanlah penghalang. Gur Blasi atau Blasi Bol adalah segelintir dari keluarga petani di Puor dan sekitarnya memahami sungguh bahwa pendidikan adalah gerbang masa depan.

“Kalau kakamu saya kenal baik. Usia kami tak terlalu jauh. Bapa dan mamamu saya kenal baik karena tiga tahun jadi orang Boto. Setelah tamat di Waiwerang saya dan beberapa teman dari kampung memutuskan merantau ke Dili agar bisa cari kerja di sana. Tapi setelah Timor Timur merdeka, kami ekaodus ke Timor barat. Saya tinggal di Noelbaki, barak pengungsi. Panggilan menjadi guru membuat saya jatuh cinta dan mengabdi di sini,” kata kaka Blasi Bol setelah melalui jejaring maya Facebook, kami bersua.

Baca juga : Corona Memberi Isyarat : Aku Rindu tapi Menolak Temu

 42,707 kali dilihat,  38 kali dilihat hari ini