Januari 18, 2021

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

BDR, Entahkan Sebuah Senandung?

BDR

Yohanes Joni Liwu

Pilih Untuk Berbagi

Belajar Dari Rumah (BDR), entahkan sebuah senandung? Guru dan segenap warga sekolah akan menjadi garda terdepan mengawasi peserta didik agar terhindar dari covid 19. Sedikit saja kelengahan, maka bukan tidak mungkin kita harus melitanikan lagi BDR, entah daring maupun luring.

Oleh: Yohanes Joni Liwu, S.Pd


Mengisahkan hari-hari penuh canda tawa di sekolah bagai rindu meletup-letup kala hari-hari ini guru dan peserta didik sedang dirundung sepih karena harus belajar dari rumah. Kerinduan itupun sedang membuncah dalam hati. Betapa tidak, kedekatan antara guru dan siswa yang hampir selalu bersama sepekan, dua pekan hingga setahun. Kalaupun ada jedah waktu seminggu itu pun hanya sebentar. Namun masa belajar di rumah yang berkepanjangan menggoreskan kejenuhan pada tingkatan yang disebut kejenuhan, keresahan, kegusaran, dan entah apalagi.

Imbauan untuk belajar di rumah menjadi semakin tak terukur karena tidak ada komunikasi yang efektif hanya untuk mengetahui kondisi belajar di rumah. Jika saja pembelajaran dilakukan secara daring ( dalam jaring ) kita harus jujur mengatakan bahwa sebagian besar siswa tidak memiliki sarana semisal gadget untuk mengakses.

Beberapa sekolah di perkotaan saja, masih dapat dihitung dengan jari alias sangat sedikit memilki telepon genggam bertipe anroid. Selanjutnya yang menjadi soal, apakah gadget yang dimiliki siswa tersebut memungkinkan aplikasi yang dapat digunakan untuk belajar di rumah? Jika memungkinkan, apakah mungkin setiap siswa memiliki pulsa data untuk belajar secara daring?

Baca juga : Andai Tak Ada Wabah Korona

Kendala-kendala teknis sehubungan dengan kepemilikan sarana untuk belajar secara daring masih menjadi titik simpul untuk kondisi di perkotaan juga pedesaan. Pembelajaran di awal tahun pembelajaran yang serba darurat memang jauh panggang dari api. Hampir saja pekan-pekan terakhir Juli disibukkan dengan pendataan kepemilikan gadget android. Itu harus berawal dari pertemuan dengan orang tua atau wali peserta didik.

Berdasarkan kesepahaman bersama soal belajar daring dan luring, baru diketahui pula jumlah peserta didik yang melakukan pembelajaran dari rumah (BDR) daring maupun luring. Walaupun demikian, masih saja terdapat kendala-kendala teknis, sehingga tidak semua yang memiliki gadget anroid mengikuti BDR daring. Sebut saja jenis gadget yang dimiliki tidak dapat mengunduh jenis aplikasi pembelajaran yang disepakati bersama.

Sedangkan bagi peserta didik yang melakukan BDR luring setidaknya harus ke sekolah menjemput bahan ajar dan lembar kerja peserta didik, termasuk mengantar pekerjaan anaknya. Pengamatan terhadap BDR daring dan luring selama dua pekan berlalu menyisahkan masalah-masalah baru. Melalui aplikasi Google Class Room (GCR ) diharapkan pembelajaran daring berlangsung efektif. Semenjak hari-hari pertama bahkan hingga seminggu, banyak peserta didik tidak bisa mengirimkan tugas maupun jawaban melalui aplikasi tersebut.

Bahkan baru dua hari mengikuti pembelajaran daring banyak siswa memohon untuk mengikuti BDR luring walau orang tuanya telah menandatangani kesepakatan BDR Daring di atas pernyataan bermeterai.Berbagai alasan yang dikemukakan semisal jenis gadget yang digunakan tidak mampun untuk mengunduh aplikasi pembelajaran yang dianjurkan sekolah.

Baca juga : Membahagiakan Anak yang Lulus di Masa Korona

Tidak sedikit guru-guru mengeluhkan keterlambatan peserta didik mengirimkan jawaban atau tugas. Banyak peserta didik hingga pekan kedua belum juga menindaklanjuti tugas yang diberikan guru. Seribu satu tanya tentang kendala teknis tak terjawab. Beberapa peserta didik tanpa malu-malu menginformasikan jika tidak cukup data sehingga tidak dapat mengembalikan jawaban dari guru-guru mata pelajaran. BDR dari rumah bagai tak terukur walau guru-guru dan semua pemangku kepentingan sangat berharap BDR entah daring pun luring dapat berlangsung secara efektif.

Namun demikian patut diacungi jempol bagai beberapa peserta didik yang sangat antusias mngikuti pembelajaran daring maupun luring. Hal ini terlihat dari tugas yang diserahkan melalui aplikasi, juga secara manual yang diberikan setiap akhir pekan kepada guru mata pelajaran. Kurikulum Darurat Pemberlakuan kurikulum darurat dengan pengurangan Kompetensi Dasar di SMP misalnya memberi signal bahwa memang terdapat kendala-kendala ketika dilakukan pembelajaran dari rumah.

Pada guru misalnya, ia kesulitan mengelola BDR dan cenderung fokus pada penuntasan kurikulum. Hal berikut, waktu pembelajaran berkurang sehingga guru tidak mungkin memenuhi beban jam mengajar. Soal komunikasi dengan orang tua, setiap guru tentu mengalami kesulitan. Pada beberapa video yang diunggah melalui media sosial, terbaca bahwa orang tua sangat mengalami kesulitan dalam mendampingi anak saat mengikuti BDR entah daring mapun luring. Hal itu dapat dimaklumi karena mereka (baca: orang tua) juga memiliki tugas dan tanggung jawab lain.

Belum lagi kalau tugas membimbing itu diserahkan sepenuh kepada seorang ibu rumah tangga karena sang ayah harus ke kantor atau menunaikan tanggung jawab sebagai pencari nafkah. Permasalahan-permasalahan yang dialami guru dan orang tua tentu tidak terlepas dari peserta didik.

Keluhan-keluhan soal tidak bisa berkonsentrasi belajar di rumah menjadi bagian lain rona-rona BDR yang hari- hari ini harus dilaksanakan karena covid 19. Anak-anak atau peserta didik tidak jarang mengeluhkan kesulitan menjawab soal-soal yang diberikan guru. Hal ini wajar saja, karena mereka sudah terbiasa dengan pembelajaran tatap muka. Hal mana dapat saja terjadi dialog atau diskusi jika saja pada materi-materi tertentu belum dipahami dengan baik. Bukankah hal-hal kecil yang dialami peserta didik berdampak pada peningkatan rasa stress? Kejenuhan dan depresi dapat saja muncul akibat isolasi berkelanjutan .

Kendala-kendala terus terurai walau berbagai bentuk dan media pembelajaran dicetus demi BDR yang efektik. Kurikulum dapat disederhanakan melalui kurikulum darurat, namun untaian masalah yang diahadapi guru,orang tua, dan peserta didik tentu akan menjadi litani panjang, sepanjang kegiatan pembelajaran dilakukan dari rumah masing-masing.

Signal tetang pembelajaran tatap muka sebagaimana dikemukakan oleh Kepaa Dinas Pendidikan Kota Kupang, Dumuliahi Djami dalam Pos-Kupang.Com ( edisi 11/8/2020) sepertinya membawa angin segar untuk mengatasi kendala-kendala di atas. Namun demikian, pemberlakukan pembelajarn tatap muka tentu harus mengikuti protokol kesehatan. Itu pun belum disebut sebagai pembelajaran yang normal karena salah satu sarat adalah pengaturan ruang untuk 50 persen siswa.

Bagi sekolah-sekolah dengan jumlah siswa yang sangat banyak tentu pula harus bekerja keras dalam hal pengaturan ini. Hal ini sangat beralasan, apalagi jika sekolah-sekolah tersebut telah melakukan pembelajaran dua shift karena kekurangan ruang belajar. Peserta didik akan hilir mudik sepanjang hari di sekolah karena pergantian jam belajar dari kelompok yang satu ke kelompok lainnya.

Tapi paling tidak pembelajaran tatap muka telah memberi ruang dan kesempatan sama bagi peserta didik untuk memperoleh pembelajaran dari guru-gurunya. Jika itu memang terjadi, semua kita berlegah hati karena telah keluar dari kesulitan –kesulitan yang melanda orang tua, guru, dan tentu kepada peserta didik itu sendiri. Kelegahan-kelegahan yang mungkin bersifat sementara, karena bangsa ini belum sepenuhnya bebas dari virus yang masih memangsa pada siapa saja yang lengah atau tidak mengikuti protokol kesehatan.

Guru dan segenap warga sekolah akan menjadi garda terdepan mengawasi peserta didik agar terhindar dari covid 19. Sedikit saja kelengahan, maka bukan tidak mungkin kita harus melitanikan lagi BDR, entah daring maupun luring.***

(Penulis : Guru Bahasa Indonesia di SMP negeri 13 Kota Kupang )

 9,907 kali dilihat,  4 kali dilihat hari ini