November 24, 2020

Warta Guru NTT.com

Pena Guru Milenial

Akhir Petualang di Musim Pandemi

akhir petualang musim pandemi
Pilih Untuk Berbagi
Akhir petualang di musim pandemi.

SETIAP pulang liburan, pertanyaan utama ia ajukan. Bawa koran dan majalah apa saja. Lalu saya timpali. Berapa banyak pelanggan yang bertahan. Ia mengaku Flores Pos jarang masuk menyasar pembaca di kampung-kampung. Jadi, sementara Pos Kupang masih merajai pembaca, tepatnya pelanggan, di desa-desa. Flores Pos adalah koran harian milik SVD berbasis di Ende, kota tempat pembuangan Presiden Pertama Ir Soekarno. Koran ini terbit menyusul Dian, surat kabar mingguan tak “bercahaya” mengakrabi pembaca. Sedang Pos Kupang, koran milik Damyan Godho, jurnalis senior Kompas. Pos Kupang eksis hingga saat ini karena manajemen usaha dibantu Kelompok Kompas Gramedia via Tribunne.

“Pelanggan dan pembaca macam kita masih rayu untuk berlangganan. Setiap tiga hari, kaka guru Alexander Bala Tolok Tolok antar ke pelanggan. Saya sewa ana bua untuk antar ke pelanggan. Menjadikan membaca sebagai kebutuhan, itu sudah lebih dari cukup. Saya tak dapat untung. Berpikir untuk untung, baiknya kubur dalam-dalam. Sejak diangkat jadi PNS, saya masih setia jadi pengecer koran Pos Kupang. Tak ada untung. Malah buntung,” kata Paulus Mudaj,adik saya, saat ia masih jadi guru di SMP Negeri 2 Nagawutun, Lembata. Saat ini ia dia diberi tugas sebagai Kepala SMP Negeri 1 Wulandoni di Puor.

Setiap kali tahu saya libur, permintaan penting ini ia sampaikan kepada saya. Bawa Kompas, Suara Pembaruan, Media Indonesia, Koran Tempo, Tempo. Di kampung, katanya, sangat sulit memperoleh media-media nasional itu. Paling kurang edisi terbaru saat saya bertolak dari Jakarta. Karena itu saat saya tiba di ruang tinggu bandara Soekarno Hatta atau Halim Perdanakusuma, pesanan itu yang selalu diingatkan.

Kebiasaan ini (bawa koran ke kampung) juga kami jalani saat masih sama-sama kuliah di Universitas Nusa Cendana. Bahkan setelah saya tinggalkan Kupang dan nemilih Jakarta lahan baru pengabdian sebagai kuli disket akhir Agustus 1998. “Kita bantu orang kampung membaca. Kalau tidak beli koran, menjadikan membaca sebagai hiburan atau kebutuhan, itu sudah lebih dari cukup. Ini cara mini kita mencintai orang-orang kita maju dalam cara berpikir,” kata Paul, yang jadi loper koran, termasuk Pos Kupang, sejak koran jumbo itu terbit perdana tahun 1992.

Sejak rencana SMP Lamaholot Boto beralih jadi SMP Negeri 2 Nagawutun, diskusi soal ini sempat kami lakukan awal tahun 2007. Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (PPO) Lembata, kaka Payong Pukan Martinus, sempat mengajak saya diskusi soal rencana Pemkab Lembata mengalihkan sekolah itu agar diurus pemerintah.

Di sebuah tempat di Jakarta, niat itu sempat disampaikan agar sebagai sesama anak kampung tak terkejut kalau sekolah swasta berusia puluhan tahun itu diurus pemerintah. Niat Pak Kadis PPO itu juga diutarakan kepada Pak Jos Pattyona dan Petrus Bala Pattyona, sesama warga asal Boto di rantau.

“Kalau ada peluang dinegrikan saya tak keberatan. Hampir setiap tahun ajaran saat masih berstatus sekolah swasta, persoalan uang SPP juga terlihat menyulitkan orangtua murid. Saya juga mendukung kalau itu menyangkut masa depan anak-anak kita memperoleh akses pendidikan yang mudah dan murah,” kata saya kepada kaka Payong Pukang Martinus, saat ngobrol di Hotel Senen Indah, Jakarta Pusat setelah saya bergerak dengan ojek dari Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Saya beruntung. Proses sosialisasi SMP Lamaholot Boto menjadi sekolah negeri sempat saya ikuti di sela-sela liburan sekeluarga di Boto pada 26 Juni tahun 2007. Kaka Payong Pukan Martinus menugaskan kaka Alex Making, salah seorang kepala bagian di Dinas PPO Lembata kala itu. Sosialisasi melibatkan Camat Nagawutun Leaj Lazarus Baon, Simon Sanga Mudaj, anggota DPRD NTT, Hendrikus Galot Pukan, sesespuh dan perintis SMP Lamaholot Boto, para guru asal Boto dan sekitarnya, Martin Wato Pukan, sesepuh dan mantan Kepala Desa Labalimut (Boto), para kepala desa dan BPD wilayah pedalaman Nagawutun, para sesepuh tiga dusun: Boto, Belabaja dan Kluang.

“Orangtua kita tak masalah sekolah ini dinegrikan. Mereka senang agar anak-anak kita punya akses mudah menikmati pendidikan,” kata Pukan Payong Martinus, sesama anak kampung Boto lulusan FKIP Undana Kupang. SMP Lamaholot akhirnya beralih jadi SMP Negeri 2 Nagawutun. Sekolah negeri itu diresmikan Bupati Lembata Andreas Duli Manuk pada Jumat, 18 April 2008 di Dusun Kluang, Desa Belabaja.

Sejak sekolah menengah itu berstatus swasta, sepertinya kami kakak beradik jatuh cinta. Pengalaman melewati masa-masa sulit di kampung semasa kecil menggugah kami care terhadap sekolah itu. Kakak perempuan kami, Hermina Barek Mudaj juga mengabdikan diri jadi guru. Setelah menamatkan SMA di Jakarta Timur, ia balik kampung dan mengabdikan diri sebagai guru honorer. Gaji yang tak sampai Rp. 50 per bulan ia sisihkan membantu SPP saya di Undana Rp. 90 per semester. Juga adik Paul yang kala itu sekolah di SMA Ki Hajar Dewantara Oebobo Kupang.

“Uang yang saya wesel kamu atur baik-baik agar bayar SPP. Jangan pake salah-salah karena bisa berantakan,” kata kaka Hermina mengingatkan.

Guru Paul dan Obie, adik bungsu memilih sekolah di Kupang. SPP Paul bisa dihandle sendiri karena terjun sebagai loper koran. “Saya belum ada niat ke Jakarta. Saya sudah melamar jadi guru di SMP Negeri 2 Nagawutun. Saya jaga-jaga saja kalau ada peluang tes, saya ikut,” kata Paul yang belakangan menyampaikan ia lulus tes sekaligus ditempatkan di almamater kami.

Sejak menjadi SMP Negeri 2 Nagawutun setiap berganti kepala sekolah, komunikasi saya dengan kepala sekolah serta para guru dan staf administrasi selalu terjalin baik. Para kepala sekolah mulai dari Theodorus Tena Kalang, Bosko Bejor Ketoj, Bernadete Rete Wuwur hingga Konradus Soni Labaona adalah teman diskusi yang baik. Informasi perkembangan kegiatan belajar mengajar selalu kami sharing bersama.

Guru-guru baru pun selalu saya berusaha untuk ngobrol. Paling kurang mengenal mereka sebagai pendidik yang memiliki tugas mengorangkan banyak anak kampung yang rata-rata dari keluarga petani. Karena itu, salah satu agenda pulang kampung tuk liburan, selalu saya sempatkan diri mampir di sekolah untuk berdiskusi banyak hal.

“Terima kasih banyak. Beberapa usulan beasiswa anak murid dari keluarga mampu via Dinas PPO dijawab Kementerian Pendidikan Nasional. Mudah-mudahan ke depan kuota usulan kita bisa lebih banyak lagi,” kata Ibu Bernadete Rete Wuwur, Kepala SMPN 2 Nagawutun kala itu. Ibu Dete, lulusan Fisika Unika Widya Mandira Kupang, berasal dari Puor, kampung di mana guru Paul mengabdi.

Tak hanya ibu Dete. Rekan gurunya, Ocha Kobun, juga mengabdikan diri sebagai guru honorer di SMP Negeri 2 Nagawutun. Ocha pernah saya ketemu di rumah kaka Moses Lua Kobun, di dusun Kluang. Moses warga Belabaja. Sedang Ocha berasal dari Baulei (Bamut), dusun sepelemparan batu arah Puor ke Faflima (Imulolong). Ia lahir dan besar di Loang, kota Kecamatan Nagawutun. Ayahnya, bapa Matias Olung Kobun menetap di Loang. Awalnya, bu guru Ocha saya tak begitu akrab dalam diskusi. Mungkin karena baru kenal atau bisa saja saya juga lama tak bertemu dan tak selalu di kampung.

“Saya sudah lama honor di SMPN 2. Betah juga di Boto karena otang-orangnya ramah. Kalau disuruh memilih, saya memilih jadi honorer di Boto,” kata Ocha saat kami ngobrol di rumah kaka Moses Kobun.

“Ini calon isteri om guru Paul, om. Begimana? Om setuju?,” tanya Moses. “Kalau dorang saling mencintai, saya dukung saja,” kata saya kepada Moses. Si ibu guru muda tersenyum saja.

Jumat, 25 September 2020, dua rekan guru sesama pendidik ini akan mengoleksi Sakramen Pernikahan Suci di Gereja St Joseph Boto. Keduanya mengakhiri petualangan masa muda era pandemi covid-19. “Saya mohon maaf tak bisa hadir. Saya doakan dan dukung dengan cara lain. Jadikan keluarga sebagai tempat menyemai cinta seoerti Kristus adalah sumber cinta,” kata saya kepada ade Paul & ibu Ocha, pengantin musim pandemi. Musim yang nyaris menghentikan langkah manusia sejagad dan lalu lalang ekonomi. Selamat berbahagia tuk ade berdua. Tuhan mengasihimu berdua dan orangtua yang telah melahirkan dan membesarkanmu hingga memasuki bakhtera rumah tangga.

Jakarta, 24 September 2020

Ansel Deri

Orang udik dari kampung;

Untuk loper koran ade Paul & Ocha Kobun.

Sumber foto: Fb Paul & Ocha Kobun

 31,617 kali dilihat,  17 kali dilihat hari ini