GURU  

Salah Kaprah Soal Publikasi Ilmiah Guru

Salah Kaprah Soal Publikasi Ilmiah Guru
Yohanes Peu

Oleh Yohanes Peu

Guru UPTD SDI Bertingkat Kelapa Lima 3, Kupang.

 

Di kalangan profesi guru sangat populer dengan Penelitian Tindakan Kelas (PTK).  PTK dianggap sebagai faktor yang jika tidak dilakukan, bisa menghambat kenaikan jabatan fungsional guru mulai jabatan Guru Pertama golongan/ruang III/b ke atas. PTK ini popular semenjak Peraturan menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permen PAN & RB) Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan petunjuk teknis pelaksanaannya yang diatur dalam Permendiknas Nomor 35 tahun 2010 mulai efektif diberlakukan beberapa tahun lalu. Dua regulasi ini merupakan aturan baru yang mengatur tentang kenaikan pangkat/golongan/ruang dan jabatan fungsional guru PNS menggantikan aturan sebelumnya yakni Permenpan Nomor 84 Tahun 1993.

Di dalam regulasi tersebut tersurat bahwa selain melaksanakan tugas – tugas pembelajaran, guru juga dituntut untuk melakukan pencarian informasi-informasi baru dan pengembangan kapasitas diri melalui kegiatan pengembangan diri, melakukan publikasi ilmiah dan juga membuat karya-karya inovatif. Tulisan ini menyoroti publikasi ilmiah guru yang oleh kebanyakan guru selama ini menganggap seolah PTK merupakan satu-satunya jenis publikasi ilmiah.

 

Salah Kaprah dalam Praktik

 

Dalam diskusi dengan rekan-rekan guru, fenomen ini mencuat terutama ketika hendak mengusulkan kenaikan pangkat dan jabatan fungsional. Pertanyaan yang selalu muncul dari rekan-rekan guru ketika hendak naik pangkat adalah, “sudah berapa PTK yang dibuat?” Pertanyaan semacam ini seolah menegaskan bahwa publikasi ilmiah guru hanya berupa PTK.

Pada hal menurut regulasi yang mengatur jabatan fungsional guru, ada beragam jenis publikasi ilmiah guru seperti presentasi pada forum ilmiah, membuat karya tulis berupa laporan hasil penelitian pada bidang pendidikan di sekolah diterbitkan/dipublikasikan dalam bentuk buku,  membuat karya tulis berupa laporan hasil penelitian pada bidang pendidikan di sekolah diterbitkan/dipublikasikan dalam jurnal, membuat makalah berupa tinjauan ilmiah dalam bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikannya (tidak diterbitkan) namun disimpan di perpustakaan sekolah, membuat tulisan ilmiah populer di bidang pendidikan formal dan pembelajaran pada satuan pendidikannya dan dimuat di media masa, membuat buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman guru, membuat modul/diktat pembelajaran, membuat buku dalam bidang pendidikan, dan membuat karya hasil terjemahan.

Ragam jenis publikasi ilmiah yang saya paparkan tersebut di atas mengafirmasi PTK bukan satu-satunya publikasi ilmiah sebagaimana anggapan di kalangan guru selama ini. Inilah yang saya sebut salah kaprah, tepatnya seperti judul di atas, Salah Kaprah Soal Publikasi Ilmiah Guru.

Salah kaprah semacam ini membawa implikasi yang nampak dalam praktik usulan kenaikan pangkat guru. Ketika mengusulkan kenaikan jabatan dari guru pertama golongan/ruang III/b ke jabatan guru muda golongan/ruang III/c sudah diwajibkan untuk melakukan PTK yang diseminarkan di sekolahnya.

Pada hal regulasi tidak mengisyaratkan kewajiban demikian. Untuk kenaikan golongan/ruang III/b ke III/c memang ada tuntutan wajib melakukan publikasi ilmiah namun masih bebas pada berbagai jenis publikasi (Permendiknas Nomor 35 tahun 2010). Artinya guru boleh melakukan PTK namun tidak diwajibkan.

Karena sifatnya bebas pada berbagai jenis publikasi ilmiah maka guru bebas memilih berbagai jenis publikasi, bisa berupa makalah tinjauan ilmiah yang didokumentasikan di perpustakaan sekolah, artikel ilmiah popular di media massa, artikel di jurnal, PTK, dsb.

Guru bebas memilih beragam jenis publikasi ilmiah di atas dengan catatan tidak wajib ber-PTK. Merujuk Permendiknas Nomor 35 tahun 2010, kewajiban melakukan minimal satu PTK itu dimulai dari kenaikan jabatan guru muda golongan/ruang III/d ke jabatan guru madya golongan/ruang IV/a, dst. Saya sendiri misalnya, ketika naik golongan III/b ke III/c pada 2019 silam, publikasi yang saya lakukan berupa beberapa artikel opini di koran dan makalah tinjauan ilmiah yang didokumentasikan di perpustakaan sekolah.

 

Pentingya Publikasi Ilmiah Guru

 

Regulasi yang mengatur jabatan fungsional guru, esensinya mau menegaskan bahwa selain pengembangan diri dan cipta karya inovasi untuk pembelajaran, kegiatan pengembangan profesi guru juga mesti berbasis pada publikasi ilmiah. Pemerintah melalui regulasi tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya tentu sudah menelisik secara mendalam terkait pentingya publikasi ilmiah guru.

Saya meraih dua hal terkait pentingnya publikasih ilmiah bagi guru. Pertama, mematangkan profesionalisme. Keberhasilan profesionalisasi dan signifikansi intelektual seorang guru sangat tergantung pada keterbukaannya untuk bergumul dengan persoalan-persoalan konkret yang berkembang di dalam konteks profesinya.

Ia akan menghabiskan sebagian besar kompetensi yang dimiliki  untuk bergumul dengan tugas – tugas profesinya. Dalam pergumulan inilah ia mesti menggali pengetahuan dari berbagai sumber informasi (membaca buku, koran, majalah, jurnal ilmiah, dsb) yang relevan untuk mengatasi beraneka persoalan konkret yang menggerogoti ‘lahan’ profesinya. Berbekal informasi dan pengetahuan yang diperoleh tersebut, dapat ia refleksikan dalam kebiasaan berpikir dan bertindak.

Aktivitas berpikir dan bertindak ini termasuk di dalamnya adalah menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan terpublikasi. Aktivitas semacam ini (membaca-tulis menulis) berdampak langsung terhadap peningkatan kemampuan intektual yang turut berkontribusi dalam pematangan profesionalisme guru.

Kedua, mengembangkan ilmu pengetahuan. Jika dikaji lebih mendalam, walau tidak tersurat di dalam Permen PAN & RB Nomor 16 Tahun 2009 dan Permendiknas Nomor 35 tahun 2010, namun dari kedua regulasi ini tersirat bahwa guru adalah penulis dan peneliti. Aktivitas menulis dan meneliti berdasarkan tradisi ilmiah ini merupakan aktivitas para ilmuwan.

Oemar Hamalik (2003) menegaskan bahwa salah satu peran guru adalah sebagai ilmuwan, yang berkewajiban tidak hanya menyampaikan pengetahuan yang dimiliki kepada muridnya, akan tetapi juga berkewajiban mengembangkan pengetahuan itu dan terus menerus memupuk pengetahuan yang dimilikinya. Ketika guru melakukan kegiatan meneliti, dan menulis berdasarkan metodologi ilmiah, kemudian dipublikasi maka ia adalah ilmuwan yang sedang menyebarluaskan ilmu pengetahuan yang ia kembangkan.

Ketika ada kewajiban melakukan publikasi ilmiah untuk profesi guru, maka sesungguhnya profesi ini merupakan komunitas ilmiah. Budaya ilmiah seperti membuat penelitian, dan menulis berdasarkan metodologi ilmiah menjalar sampai ke ruang profesi guru dan sudah menjadi suatu keharusan.

Olehnya, menjadi kewajiban mutlak bagi guru untuk terlibat aktif dalam rutinitas ilmiah dimana dia harus mempunyai kemampuan ilmiah dan professional untuk menghasilkan karya ilmiah terpublikasi. Karya ilmiah terpublikasi dimaksud tidak hanya Penelitian Tindakan Kelas sebagaimana dipaparkan di atas. Namun ada banyak jenis/ragam publikasi sebagaimana tersurat dalam Permen PAN & RB Nomor 16 Tahun 2009 dan Permendiknas Nomor 35 tahun 2010. Semoga tulisan ini meluruskan salah kaprah yang terjadi selama ini di kalangan guru. ***

 

Tulisan ini telah terbit di Surat Kabar Harian Victory News edisi 26 Oktober 2021

Responses (2)

  1. Luar biasa, semoga otoritas yang menangani KENAIKAN PANGKAT membaca tulisan ini. Saya sangat setuju, bahwasanya saat ini persyaratan kenaikan pangkat dalam hal ini PTK perlu ditinjau kembali. Sehingga mudah dipahami dan diterapkan baik oleh dinas terkait maupun oleh pengusul kenaikan pangkat itu sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.